headerphoto
MENGINGAT HARI MENAKUTKAN
Rabu, 2 Juli 2014 08:32:17 - oleh : priyono


MENGINGAT SUATU HARI YANG MENAKUTKAN


Al-Ghazali
Kesembilan maqam ruhani yang telah kami sebutkan terdahulu bukanlah satu
kategori yang berdiri sendiri-sendiri. Justru sebagian diantaranya menunjukkan
esensi maqam lainnya, seperti prinsip atau maqam cinta (mahabbah) dan prinsip
atau maqam ridha (rela terhadap ketetapan Allah); keduanya merupakan maqam
tertinggi. Di antara maqam tersebut saling berkait dengan maqam lainnya,
seperti maqam tobat dan zuhud; maqam takut (khauf) dan sabar. Sebab, tobat itu
merupakan tindakan kembali dari jalan yang menjauhkan (diri dari Allah) menuju
jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Sedangkan zuhud merupakan tindakan
meninggalkan ragam kesibukan yang menghalangi pendekatan diri kepada-Nya; rasa
takut (al-khauf) merupakan cambuk yang menggiring perilaku untuk meninggalkan
kesibukan-kesibukan tersebut. Sabar adalah perjuangan ruhani melawan ragam
nafsu yang menghalangi jalan pendekatan diri kepada-Nya.


Jadi, masing-masing maqam tersebut
tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling berkaitan antara satu dengan yang
lainnya, melalui ma'rifat dan mahabbah, yang berdiri sendiri. Hanya saja,
ma'rifat dan mahabbah tidak dapat berwujud sempurna, kecuali dengan cara
menafikan rasa cinta kepada selain Allah dalam kalbu. Untuk kepentingan
tersebut memerlukan al-khauf, sabar dan zuhud. Di antara hal yang besar manfaat
dan fungsinya dalam hal ini adalah mengingat akan mati. Inilah pembahasan yang
kami maksudkan.


Syariat memberikan imbalan pahala
yang besar terhadap orang yang suka mengingat mati. Sebab dengan mengingat
mati, akan menyulitkan dirinya dalam mencintai dunia, selain memutus hubungan
hati dengan dunia itu sendiri.
Allah Swt. berfirman:
"Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu Iari dari padanya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu." (Q.s. Al-Jumu'ah: 8).

Rasulullah Saw. bersabda:
"Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan-kelezatan!" (Al-Hadis).

Beliau juga bersabda, "Barangsiapa tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah
pun tidak suka bertemu dengannya."

Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah Saw, "Wahai Rasulullah, adakah seseorang
yang dikumpulkan bersama para syuhada' (orang yang mati syahid)?" tanya Aisyah
r.a.
"Benar," jawab Rasulullah, "yaitu, orang yang mengingat mati duapuluh kali
dalam sehari semalam."

Rasulullah Saw. melintasi sebuah majelis yang penuh dengan gelak tawa, lalu
beliau bersabda, "Campurilah majelis kalian dengan pengaruh
kelezatan-kelezatan!"
"Apakah itu?" di antara mereka mengajukan pertanyaan.
"Maut," jawab beliau singkat.

Rasulullah Saw. bersabda, "Andaikata binatang-binatang itu tahu akan kematian
sebagaimana manusia (mengetahuinya), tentu kalian tidak akan makan daging yang
gemuk darinya."
Sabda beliau pula, "Cukup maut sebagai pemberi peringatan."
Sabdanya:
"Aku tinggalkan dua pemberi peringatan di tengah-tengah kalian, yang diam dan
dapat berbicara. Yang diam adalah maut, sedangkan yang berbicara adalah
Al-Qur'an." (Al-Hadis).

Ada seorang laki-laki yang disebut-sebut di sisi Rasulullah Saw, orang itu
selalu dipuji dengan baik. Lalu Rasulullah Saw bertanya, "Bagaimana teman
kalian itu men yebut mati?"
"Kami hampir tidak pernah mendengar dia mengingat mati," jawab mereka.
"(Jika demikian), maka sesungguhnya teman kalian itu bukanlah di situ," jawab
beliau.

Seorang sahabat dan kaum Anshar bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia
yang paling cerdas dan mulia?" tanya seorang laki-laki dan (kaurn) Anshar.
"Yang paling banyak mengingat mati di antara mereka, dan yang paling banyak
(tekun) mempersiapkan diri menghadapi kematian. Mereka itulah orang-orang yang
paling cerdas, mereka pergi dengan kelegaan dunia dan kemuliaan akhirat," sabda
beliau.

Manfaat Ingat Kematian
Mati merupakan persoalan besar, sekaligus masalah yang luar biasa. Tiada
sesuatu pun yang luar biasa melebihi kematian ini. Mengingat mati besar
manfaatnya. Kematian dapat mempersempit kehidupan dunia dan menjadikan hati benci
pada dunia.
Membenci duniawi merupakan pangkal segala kebaikan, sebagaimana cinta dunia
merupakan pangkal dari segala kesalahan.


Bagi orang ‘arif (ahli ma'rifat)
mengingat Allah itu memiliki dua fungsi dan kegunaan: Pertama, benci pada
dunia, dan kedua, rindu akhirat.
Orang yang mencintai -tidak mustahil- pasti merasakan rindu. Rindu pada hal-hal
yang bisa diraba, pengertiannya adalah, penyempurnaan fantasi untuk mencapai
pada penyaksian langsung.


Rasa rindu kepada-Nya pasti bisa
dicapai melalui fantasi, tanpa penglihatan dengan mata.
Hal-ihwal akhirat dan kenikmatannya berikut keindahan hadirat ketuhanan, bagi
orang ‘arif diketahui dalam bentuk seakan-akan dia melihat dari balik tirai
tipis pada waktu mendung dan cahaya remang. Dia merindukan kesempunaan itu
melalui tajalli dan musyahadah. Dia tahu bahwa hal tersebut tidak akan terjadi,
kecuali dengan maut; karenanya dia tidak benci mati, sebab dia tidak membenci
pertemuan dengan Allah Swt, bahkan dia menyukai pertemuan dengan-Nya.


Orientasi duniawi muncul disebabkan
oleh kurangnya mengingat mati. Cara untuk bertafakur pada kematian ialah,
hendaklah seseorang mengosongkan pikiran dan ingatannya selain kematian. Lalu
duduk berkhalwat dan mengendalikan ingatan tentang mati dengan lubuk kalbunya.
Mula-mula ia mengingat tentang sahabat-sahabatnya yang telah lalu (meninggal
dunia), mengingat mereka satu persatu, lalu mengingat sifat rakus, ambisi,
angan-angan dan kecintaan mereka terhadap kedudukan dan harta. Kemudian
mengingat pergulatan mereka menjelang direnggut maut dan penyesalannya
menyia-nyiakan waktu dan umur.


Selanjutnya bertafakur tentang
tubuh-tubuh mereka: Bagaimana tubuh-tubuh tersebut terobek-robek dalam tanah
dan menjadi bangkai yang dimakan ulat. Lalu, mengembalikan kepada dirinya,
bahwa dirinya seperti salah seorang di antara mereka: Angan-angannya seperti
angan-angan mereka dan pergulatannya (nanti menjelang kematian) seperti
pergulatan mereka. Kemudian perhatiannya dialihkan pada anggota-anggota
tubuhnya, bagaimana nanti ia menjadi remuk; selanjutnya dialihkan pada biji
matanya, ketika nanti ia dimakan ulat; pada lidahnya ketika lidah itu menjadi
usang kemudian menjadi bangkai di dalam mulutnya.


Apabila Anda melakukan hal itu, maka
bagi Anda dunia atau harta-benda itu kecil dan hina, dan Anda menjadi bahagia.
Sebab, orang yang bahagia itu adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari
orang lain. Karena itulah Rasulullah Saw bersabda:


"Hai manusia, seakan-akan maut itu
telah ditetapkan kepada selain kita, seakan-akan kebenaran itu telah diwajibkan
kepada selain kita, dan seakan-akan orang-orang mati yang kita antarkan baru
saja pergi, mereka kembali kepada kita, kita tempatkan mereka di makam-makamnya
dan kita makan harta-harta peninggalan (warisan)nya, seakan-akan kita (hidup)
kekal setelah mereka. Kita melupakan setiap peringatan dan aman (terbebas) dari
bencana." (Al-Ha dis).
Lamunan Panjang


Lamunan panjang merupakan akar dari
kelalaian mengingat mati. Lamunan itu merupakan kebodohan yang sebenarnya.
Karena itulah Rasulullah Saw. bersabda kepada Abdullah bin Umar r.a.:
"Jika masuk waktu pagi, jangan kamu bicarai dirimu tentang sore har. Bila masuk
waktu sore, jangan kamu bicarai dirimu tentang pagi. Ambil (kesempatan) dari
hidupmu untuk matimu, dari sehatmu untuk sakitmu, sebab kamu hai Abdullah,
tidak tahu apa namamu esok hari." (Al-Hadis).

Rasulullah Saw juga bersabda, "Ada dua kebiasaan (perangai) yang paling aku
takutkan pada ummatku, yaitu: menuruti hawa nafsu dan lamunan panjang."

Usamah membeli budak wanita sampai dua bulan dengan harga seratus, lalu
Rasulullah Saw. berkata:
"Apakah kalian tidak merasa heran kepada Usamah, orang yang membeli (budak
wanita) sampai dua bulan? Sungguh Usamah itu panjang lamunannya. Demi jiwaku
yang ada pada kekuasaan-Nya, aku tidak akan mengejapkan kedua mataku, kecuali
aku telah mengira bahwa tempat tumbuhnya bulu pelupuk mata tidak dapat mengatup
hingga Allah mencabut ruhku. Aku tidak akan mengangkat kedua mataku, sedangkan
aku mengira bahwa dirikulah sebenarnya yang menaruhnya hingga aku dimatikan,
dan aku tidak akan menelan sesuap (makanan), kecuali aku mengira bahwa aku
tidak akan memasukkannya ke tenggorokan hingga aku tersekat dengannya karena
menjelang kematian."

Kemudian beliau bersabda, "Hai anak Adam, jika kalian berakal, maka hendaklah
kalian perhitungkan diri kalian dengan kematian. Demi jiwaku yang ada pada
kekuasaan-Nya, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian pasti tiba, dan
kalian bukan tidak mampu."

Rasulullah Saw. bersabda, "Generasi pertama dan ummat ini selamat dengan
keyakinan dan kezuhudan, dan akhir ummat ini menjadi binasa karena sifat kikir
dan panjang angan-angan."
Dan Rasulullah Saw. bersabda, "Apakah kalian semua ingin masuk surga?"
"Benar," jawab mereka.
"Pendekkanlah angan-angan kalian, jadikan ajal kalian ada di hadapan mata
kalian, dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya," sabda beliau.

Kematian Dimata Orang Arif
Orang ‘arif yang paripurna tidak putus-putus menyebut dan mengingat Allah,
tidak lagi mengingat mati, bahkan dia itu fana' dalam tauhid. Dia tidak pernah
menoleh ke masa lalu dan masa depan, tidak pula keadaan dari sisi bahwa itu
sekadar keadaan. Dia adalah anak waktunya, patuh kepada sang waktu. Maksudnya,
dia seperti orang yang menyatu dengan yang diingat atau disebutkannya. Kami
tidak menyatakan bahwa dia menyatu dengan Dzat Allah Swt. Hal ini jangan Anda
rasionalisasikan, nanti Anda tergelincir dan salah, kemudian buruk sangka.


Orang ‘arif tidak lagi merasakan
rasa takut/cemas (khauf) dan rasa berharap (raja'), karena khauf dan raja' itu
adalah cambuk yang menggiring seorang hamba kepada suatu kondisi yang penuh
dengan rasa. Lalu bagaimana ia akan mengingat mati, padahal tujuan mengingat
mati itu adalah agar hubungan ikatan kalbunya dengan apa yang bisa ditinggalkan
setelah kematian itu terputus. Sedangkan seorang ‘arif telah mengalami mati,
dalam kaitannya dengan hak dunia dan apa saja yang akan ia tinggalkan dengan
terjadinya kematian itu. Dia juga bebas dari orientasi kepada akhirat, apalagi
pada dunia. Selain Allah Swt, baginya rendah dan hina. Maut baginya merupakan
penyingkapan tirai agar tambah jelas dan yakin. Inilah makna ucapan Sayyidina
Ali r.a, "Jika tirai itu telah dibuka, maka belum bisa menambah keyakinan
bagiku."
Orang yang melihat orang lain dari balik tirai, keyakinannya belum bertambah
dengan tersingkapnya tirai, hanya saja, bertambah jelas.


Maka mengingat mati itu dibutuhkan
oleh orang yang kalbunya masih menoleh pada dunia, agar dia tahu bahwa dia akan
berpisah dan meninggalkannya, sehingga dia tidak selalu cinta dunia. Karena
itulah, Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Ruhul Quds (Jibril) membisik
dalam hatiku, ‘Cintailah apa yang kamu cintai, sesungguhnya kamu akan berpisah
dan meninggalkannya. Puaskanlah hidupmu, sebab sesungguhnya kamu itu adalah
mayit. Dan beramallah sesukamu, karena sesungguhnya kamu mendapat imbalan
dengannya'."

Hakikat Dan Esensi Mati

Barangkali Anda ingin tahu hal-ihwal dan hakikat mati. Anda tidak akan pernah
mengetahui hal itu sebelum Anda tahu tentang hakikat hidup. Anda tidak akan
pernah mengetahui hakikat hidup sebelum Anda tahu tentang ruh; itu adalah diri
Anda, esensi dan jatidiri Anda. Ruh adalah hal yang tersembunyi dalam diri
Anda. Anda jangan terlalu giat untuk mengenal Tuhan sebelum Anda kenal diri
Anda. Maksud kami dengan diri Anda adalah ruh Anda, sesuatu yang dinisbatkan
kepada Allah Swt. dalam firman-Nya yang berbunyi, "Katakanlah, ‘Ruh itu
termasuk urusan Tuhanku'." (Q.s. Al-Isra': 85).
Dan dalam firman-Nya yang berbunyi, "Dan telah meniupkan ke dalamnya ruh
(ciptaan)-Ku." (Q.s. Al-Hijr: 29).

Dimaksud ayat tersebut bukan ruh jasad yang halus, yang merupakan pembawa
energi indera dan gerak, yang bersumber dari hati dan menyebar ke seluruh
tubuh; menyebar ke seluruh rongga urat-urat yang berdenyut. Dari Situ mengalir
cahaya indera penglihatan pada mata, cahaya indera pendengaran pada telinga,
dan pada seluruh kekuatan dan indera-indera lainnya; sebagaimana cahaya pelita
mengalir ke seluruh sisi rumah. Ruh Ini sama dengan ruh binatang, ia bisa
menjadi binasa dengan maut, sebab itu adalah uap yang kematangannya terus
stabil ketika minyaknya masih stabil. Bila minyak itu telah labil, ia jadi
rusak sebagaimana cahaya yang mengalir dari pelita itu punah ketika pelita itu
padam, karena minyaknya telah habis, atau karena dipadamkan.


Ruh semacam ini menjadi binasa
(rusak) dengan terputusnya makanan (bagi manusia atau binatang), karena makanan
bagi ruh tersebut minyak bagi pelita. Pembunuhan terhadapnya seperti tiupan
pada pelita. Ruh semacam ini, kesehatan dan stabilitasnya menjadi garapan ilmu
kedokteran. Ruh ini tidak memikul ma'rifat dan amanat. (sumber: sufinew.com)


 



Untuk memasang posting ini pada blog/web Anda

Copy&paste script berikut:

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini Sekolah" Lainnya

: $rightside; $leftside = !isset($leftside) ?